Bukit Kunyit Longsor, Warga Malah Anggap Berkah
TRIBUN LAMPUNG NEWS VIDEO TRIBUN LAMPUNG NEWS VIDEO
1.14M subscribers
2,462 views
0

 Published On Dec 3, 2019

Jangan lewatkan informasi terpopuler lainnya dengan klik
https://lampung.tribunnews.com/2019/1...
Video Youtube Terpopuler:    • 2 Mahasiswa UIN Raden Intan Dikabarka...  
Follow Instagram:https://www.instagram.com/tribunlampu...
Follow Twitter:   / tribunlampung_  
Video Facebook Terpopuler:
https://m.facebook.com/story.php?stor...
--------------------------
TRIBUNLAMPUNG.CO.ID, BANDAR LAMPUNG - Gunung Kunyit di Kelurahan Sukaraja, Kecamatan Bumi Waras Bandar Lampung mengalami longsor siang tadi sekitar pukul 13.00 WIB, Selasa (3/12/2019).
Beredar video berdurasi 9 detik di jejaring sosial media Whatshap yang merekam momen longsornya gunung yang sebagian besar sudah ditambang batunya ini.
Pantauan Tribun di lokasi, pasca kejadian, nampak aktivitas kuli batu yang tengah mengangkut batu longsoran ke dalam truk pengangkut.
Menurut mereka, Longsornya bukit justru dianggap sebagai sebuah berkah.
Karena saat longsor, akan menghasilkan banyak batu untuk diangkut pembeli menggunakan truk.
Longsornya Gunung Kunyit menambah daftar semakin parahnya kondisi gunung yang rusak di Bandar Lampung akibat aktivitas penambangan.
Seperti halnya di Bukit Sukamenanti, Kecamatan Kedaton beberapa waktu lalu yang juga mengalami longsor akibat digerus penambang pada bagian bawah bukitnya.
Berdasarkan pantauan Tribunlampung.co.id, Selasa (3/12/2019) sore, suasana lokasi Gunung Kunyit saat dikunjungi masih ramai rutinitas pekerja yang sedang melakukan penambangan batu.
Nampak aktivitas kuli batu yang memindahkan batu longsoran ke dalam truk-truk. Setidaknya ada empat truk yang datang ke lokasi dalam kurun waktu kurang dari setengah jam.
"Ya itu hanya aktivitas masyarakat saja, kuli batu mindahin batu untuk diangkut ke truk," terang Wiwin, salah seorang pekerja tambang batu di Gunung Kunyit.
Ia menjelaskan bahwa kondisi longsor yang terjadi memang disengaja. Dimana akibat aktivitas penggali batu yang menggerus gunung pada bagian bawahnya. Penambang batu menyebut dengan istilah "digerong".
). Pengerjaannya manual dan sudah puluhan tahun seperti itu pengerjaannya. Setelah digerong butuh waktu tiga sampai empat bulanan untuk bisa longsor," ungkapnya.
Menurutnya, masyarakat di lingkungan tempat tinggalnya tersebut memang sebagian mencari nafkah menambang batu.
"Hampir 80 persen warga bekerja di sini. Saat menggerong gunung juga tidak bisa sembarang. Karena ketika kira-kira longsor kami sudah tahu lihat dari gerakannya," jelasnya.
Saat longsor seperti ini, setidaknya penambang bisa mendapatkan hingga 30 truk batu siap angkut.
Penghasilan sebagai pekerja tambang batu, sambungnya, tentunya tidak tentu karena tergantung dari pemesanan.
"Kalau hitungannya sekitar Rp80-90 ribu perorangnya untuk yang tukang muat. Kalau tukang gali sampai Rp100-Rp200 ribuan," pungkasnya.
Selain Wiwin, ada juga kuli batu Arif Hidayat yang menggantungkan hidup dari aktivitas penambangan batu di Gunung Kunyit.
Diakuinya, dia telah bekerja sebagai kuli batu sudah sekitar 20 tahunan.
"Sudah lama saya kerja di sini, lahir sampai setengah 6 sore, buat kebutuhan sehari-hari, anak saya dua," beber pria 42 tahun itu.
Saat sepi pembeli dan kondisi batu yang tersedia minim, dirinya tak jarang hanya membawa pulang uang Rp 25 ribu satu harian.
"Ya memang setau saya nggak boleh lagi nambang di sini. Tapi mau gimana lagi kebutuhan," ungkapnya.
Menurutnya saat ada truk datang kuli dan penambang batu mendapatkan 250 ribu per truk. Jatahnya 130 ribu untuk penambang batu dan 120ribu untuk kuli batunya.
"Ya kalau satu truk datang itu dikeroyok empat orang, uang Rp 120 ribu dibagi empat (kuli batu). Sehari bisa dapat 11 sampai 30 truk pas ramai," beber dia.(Tribunlampung.co.id/Sulis Setia M)

Videografer Tribunlampung.co.id/Ikhsan Dwi Nur Satrio
#tribunlampung #bukitlongsor #bandarlampung

show more

Share/Embed